TINJAUAN KRITIS ALKITABIAH TERHADAP KONSEP TENTANG TUHAN DALAM PANDANGAN POST-MODERNISME.

PENDAHULUAN

Pengertian-pengertian
Dalam penulisan ini penulis mengambil judul : TINJAUAN KRITIS ALKITABIAH TERHADAP KONSEP TENTANG TUHAN DALAM PANDANGAN POST-MODERNISME. Untuk dapat lebih mengerti tentang apa yang akan penulis sampaikan ada baiknya kita melihat beberapa pengertian yang berkaitan dengan judul tersebut.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “tinjauan” berarti melihat sesuatu, memeriksa, mengamati dan dapat pula berarti pendapat sesudah menyelidiki atau mempelajari.
Sedangkan kata “kritis” memiliki pengertian tajam dalam penganalisaan.
Kata “Alkitabiah” penulis menginterpretasikannya sebagai sesuatu hal yang sesuai dengan kebenaran Alkitab sebagai Firman Tuhan.
Kata “Konsep” berarti ide, pengertian terhadap sesuatu pandangan.
Selanjutnya “Tuhan” diartikan sebagai sesuatu yang diyakini, dipuja, disembah oleh manusia sebagai Yang Maha Kuasa, Yang Maha Perkasa.
“Pandangan” berarti hasil perbuatan memandang.
“Postmodernisme” sendiri memiliki banyak pengertian. Postmodernisme bisa dipandang sebagai sebuah kenyataan sosial, namun juga dapat dipandang sebagai wacana pemikiran baru sebagai alternatif terhadap modernisme. Dalam penulisan ini penulis mengambil pengertian yang kedua tadi.
Berangkat dari beberapa pengertian di atas penulisan ini merupakan sebuah pengamatan yang tajam dalam penganalisaan berdasarkan kebenaran Alkitab sebagai wahyu ilahi terhadap ide tentang sesuatu yang diyakini, dipuja, disembah oleh manusia sebagai Yang Maha Kuasa, Yang Maha Perkasa, yang dipandang oleh sebuah wacana pemikiran baru sebagai alternatif modernisme, yaitu postmodernisme.

Dasar Penulisan
Penulis merasa tertarik untuk membahas hal ini karena penulis melihat sebuah ancaman serius dari pandangan postmodernisme terhadap kebenaran, khususnya yang berkaitan dengan konsep tentang Tuhan.
Postmodernisme menempatkan begitu banyak tantangan terhadap teologi Kristen. Tantangan-tantangan itu antara lain:
Postmodernisme mempertanyakan bahkan menyalahkan Alkitab sebagai wahyu yang proporsional.Postmodernisme menganggap teologi harus mengutamakan natur narasi dan bukannya sistematika yang abstrak dan konseptual.
Pemikiran keagamaan postmodern telah bergeser dari pendekatan yang bersifat teistik kepada pendekatan sekular antiteistik. Hasilnya nilai-nilai transendental dihapus dan Tuhan direduksi menjadi semangat kebangsaan dan kebudayaan.
Postmodern menggantikan metafisika dengan eksistensialisme dan filsafat analitik sehingga menghasilkan sistem yang tanpa pemikiran metafisis, bahkan mengesampingkan dan meremehkan doktrin keagamaan yang berdasarkan pada metafisika.
Itulah tantangan yang muncul dari sekian banyak tantangan era postmodernisme. Secara khusus berkaitan dengan pandangan postmodernisme tentang Tuhan, penulis merasa perlu menanggapi dalam pandangan dan pemahaman yang diterangi kebenaran Alkitab untuk menangkal adanya reduksi terhadap konsep tentang Tuhan.

Tujuan Penulisan
Penulisan ini bertujuan supaya pembaca dapat memahami konsep Tuhan secara benar menurut Alkitab yang kita percaya sebagai wahyu ilahi di tengah-tengah pendangkalan konsep ini dalam era postmodernisme ini.
Dengan pemahaman yang benar diharapkan para pembaca dapat menjawab tantangan postmodernisme dalam terang kebenaran Firman Tuhan.

Rumusan Masalah
Apa yang akan dibahas dalam penulisan ini antara lain:
1. Apa yang menjadi dasar pemikiran dunia postmodernisme?
2. Bagaimana posisi Tuhan dalam dunia postmodernisme?
3. Apa yang Alkitab katakan tentang Tuhan?

TINJAUAN KRITIS ALKITABIAH TERHADAP KONSEP TENTANG TUHAN DALAM PANDANGAN POSTMODERNISME

Dasar Pemikiran Postmodernisme
Era postmodernisme ditandai oleh berakhirnya dominasi Barat dan kemunduran individualisme, kapitalisme dan kekristenan. Pada tahun 1930-an istilah ini dikenal, namun tidak mendapat momentum sampai 40 tahun kemudian.
Zaman postmodernisme memiliki banyak dimensi, namun salah satu dimensi utama zaman postmodernisme adalah penolakan terhadap pendekatan modern atas keyakinan religius yang menolak kebenaran kepercayaan religius. Kesadaran postmodernisme menyamakan bobot yang dimiliki oleh intuisi religius dengan intuisi-intuisi inderawi, logis dan metafisis.
Sekalipun postmodernisme menolak aspek-aspek kunci tertentu dari modernisme, paham ini juga mempertahankan kemiripan-kemiripan tertentu dengan modernisme. Baik modernisme maupun postmodernisme secara umum bersifat nonteistis, artinya mereka sama-sama menolak teisme atau menegaskan agnostisisme.
Postmodernisme menegaskan relativisme bahkan sampai pada tingkatan bahasa itu sendiri. Realitas objektif tidak bisa ditangkap dengan bahasa yang merupakan penemuan manusia, baik itu bahasa tentang Allah, kosmos atau nilai-nilai manusia.
Postmodernisme dalam hal penolakan terhadap kebenaran yang objektif memiliki kesamaan dengan Hinduisme dan Buddisme yang mengajarkan bahwa dunia luar hanyalah sebuah ilusi dari pikiran manusia.
Sebagian beranggapan bahwa postmodernisme adalah gerakan yang menjauh secara radikal dari modernisme. Namun sebenarnya postmodernisme adalah hasil dari modernisme.
Douglas Groothuis berpendapat bahwa sebagian pemikiran postmodernisme merupakan reaksi terhadap ajaran-ajaran modernisme tertentu, seperti saintisme (semua kebenaran harus dibuktikan secara ilmiah), rasionalisme dan mitos kemajuan manusia yang mendasarkan ajaran-ajarannya pada konsep-konsep yang benar: rasio dan pencarian ilmiah sebagai alat-alat yang sah untuk mendapatkan kebenaran yang objektif. Namun modernisme melebih-lebihkan kebenaran dasar ini sampai menjadi kesalahan, yaitu kepercayaan bahwa akal manusia bisa objektif seutuhnya, bahwa studi ilmiah mendefinisikan batas-batas pengetahuan (saintisme) dan bahwa kemajuan tidak terelakkan ketika sains dan akal menjadi alat-alat kita. Itu sebabnya postmodernisme bereaksi dengan enghilangkan mitos-mitos modern ini dan mnganggapnya sebagai penemuan budaya oleh pihak yang berkuasa dan dominan. Selain sebagai sebuah reaksi terhadap unsur-unsur modernisme yang benar namun dilebih-lebihkan, postmodernisme juga terlalu melebih-lebihkan unsur modernisme yang salah. Modernisme khususnya pada tahap yang lebih akhir, didasarkan pada wawasan dunia naturalisme, menolak kebenaran yang objektif di luar dunia alam. Hal ini membuka jalan bagi postmodernisme. Allah dan semua konsep yang berhubungan dengan nilai, moralitas, spiritualitas dan realitas supranatural/imaterial menjadi konsep semata, menjadi sekedar kata-kata tanpa acuan yang objektif.
Nilai tidak lagi berkaitan dengan agama dan kepercayaan. Agama sebagai asas bagi moralitas diserang dengan doktrin nihilisme. Doktrin ini dinamakan Europian Nihilism. Tetapi tentang doktrin ini dapat dilihat dengan lebih jelas lagi dari apa yang kini disebut sebagai “The Philosophy of Difference” yang menjadi salah satu penghubung antara nihilisme dan hermeneutika (filsafat interpretasi). Nihilisme dan filsafat perbedaan merupakan tanda berkembangnya postmodernisme yang pada perkembangan berikutnya menjadi penolakan terhadap kebenaran transenden.
Posisi Tuhan dalam Dunia Postmodernisme
Dalam penjelasan/pemaparan penulis pada bagian sebelumnya, dapat kita lihat bahwa paham postmodernisme cenderung menyingkirkan nilai-nilai transenden. Beberapa pendapat para tokoh postmodernisme, khususnya berkaitan dengan konsep tentang Tuhan:
Frederich Nietzsche (1844-1900)
Nietzsche adalah seorang pencetus ide tentang “matinya” Tuhan. Dia tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, riil dan berada di luar manusia. Bagi dia Tuhan hanyalah persepsi manusia tentang sesuatu yang kuat. Tuhan hanyalah sesuatu yang dibuat manusia sebagai ikhtisar kemalangan, Tuhan itu gambaran manusia dan mengancam manusia.
Jean Paul Sartre
Dia memperkuat pendapat Nietzshe dengan memberikan suatu “bukti” bahwa Tuhan tidak ada. Dia menyatakan bahwa: mau tidak mau manusia mengalami ide bahwa Tuhan itu ada sebagai suatu obsesi (ide yang menghantuinya), tetapi andaikata Tuhan itu ada, maka manusia idak ada. Jadi demi kebahagiaan manusia, perlu diterangkan bahwa Tuhan itu tidak ada.
Martin Heidegger
Heidegger adalah seorang filsuf abad 20, ia mengaku bahwa pemahamannya mengenai konsep tentang Tuhan adalah sejauh hal itu menyangkut kesadaran individu tentang dosa dan kesalahan pribadi, tetapi ia tidak memahami Tuhan sebagai Sang Pencipta. Ia berpikir tentang Tuhan secara non-metafisis.
Lenin
Pada tahun 1952 dalam sebuah brosur di Rusia dia mengatakan bahwa hal menerima adanya Tuhan justru menggugurkan moral yang sejati dan kemajuan susila. Konsep tentang Tuhan harus dilawan, karena mengandung sebuah ideologi yang merintangi kemajuan sosial.

Ludwig Wittgenstein
Dia berpendapat bahwa Tuhan tidak ada karena Ia hanya dapat dijumpai bila kita berdiam diri. Tuhan tidak mewahyukan diri di dalam dunia.
Ludwig Feuerbach
Bagi dia Tuhan hanyalah sebuah proyeksi dari pihak manusia. Adanya Tuhan tidak lain hanyalah cermin adanya manusia.
Yang dapat kita simpulkan dari beberapa pendapat di atas adalah postmodernisme membangun “teologi” berdasarkan asasnya sendiri. Dalam “teologi” ini Tuhan dimasukan ke dalam sistem penjelasan rasional yang tertutup (closed system of rational explaination). Akhirnya pikiran postmodern merobohkan jalan berpikir metafisis.

Pandangan Alkitab Mengenai Konsep Tentang Tuhan
Bila kita belajar filsafat maka pertanyaan tentang eksistensi Allah adalah pertanyaan yang umum, bahkan sampai saat ini orang masih mempertanyakannya. Pada bagian terdahulu kita sudah melihat berbagai pandangan para tokoh postmodernisme mengenai konsep tentang Tuhan. Namun bagi kita yang telah menjadi orang percaya, kita harus kembali kepada Alkitab yang kita yakini sebagai wahyu ilahi
Apa yang Alkitab katakan tentang keberadaan Allah? Alkitab memberikan petunjuk bahwa Allah menyatakan dirinya secara umum kepada semua umat manusia lewat alam semesta dan secara khusus kepada orang-orang tertentu. Penyataan diri yang pertama kita kenal sebagai wahyu umum, sedang yang kedua kita kenal sebagai wahyu khusus. Mari kita lihat satu persatu:
Keberadaan Allah Dilihat Dari Wahyu Umum
Yang dimaksud wahyu umum adalah penyataan Allah tentang keberadaan diriNya melalui alam semesta. Lewat wahyu umum ini terdapat aspek-aspek tentang Allah dan naturNya yang dinyatakan kepada seluruh umat manusia, sehingga mereka memiliki kesadaran akan keberadaan Allah.
Mazmur 19:1-7 adalah bagian yang menekankan wahyu umum tentang Allah dalam alam semesta. Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan bumi adalah bukti dari pekerjaanNya. Lebih jauh dalam Roma 1:18-21 menekankan wahyu umum tentang Allah dan fakta bahwa manusia bertanggung jawab kepada Allah. Sebab apa yang tidak nampak dari padaNya, yaitu kekuatanNya yang kekal dan keilahianNya dapat nampak kepada pkiran dari karyaNya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih (1:20).
Di sini kita melihat bahwa Allah memang dengan sengaja menyatakan diriNya. Keberadaan Allah yang berkuasa dan kekal tidak kelihatan tetapi dapat diketahui oleh setiap manusia di muka bumi. Alam semesta sudah menceritakan kekuatan Allah yang kekal. Manusia tidak dapat berdalih bahwa mereka tidak menyembah Allah yang hidup oleh karena mereka tidak tahu.
Keberadaan Allah Dilihat Dari Wahyu Khusus
Wahyu khusus lebih sempit jangkauannya dibandingkan wahyu umum. Wahyu umum diterima oleh setiap manusia, sedangkan wahyu khusus hanya orang tertentu saja. Bila berbicara tentang penyataan diri Allah dalam konteks wahyu khusus, maka kita mendapati bahwa Allah menyatakan diriNya melalui mimpi dan visi kepada orang-orang tertentu. Ia berbicara secara langsung kepada beberapa orang dan melalui Theofani (manifestasi Allah yang dapat dilihat-dalam PL) kepada yang lain. Contoh: Allah berbicara secara langsung kepada Abraham dalam pemanggilannya (Kejadian 12:1-9), menampakkan diri kepada Abraham melalui Theofani (Kejadian 18:1-33). Tuhan menampakkan diri kepada Yakub melalui mimpi (Kejadian 28:10-22) dan theofani (Kejadian 32:22-32). Tuhan menampakkan diri kepada Musa di padang gurun Midian dalam semak yang menyala (Keluaran 3:2).
Namun demikian penekanan wahyu khusus adalah penyataan Allah melalui Kitab Suci dan melalui Yesus Kristus. Yohanes 1:18 menekankan bahwa melalui perkataan/pengajaran dan pekerjaanNya Kristus telah menjelaskan tentang Bapa kepada manusia.

PENUTUP

Kesimpulan
Lewat pemaparan di atas kita dapat simpulkan bahwa para tokoh postmodernisme cenderung menolak keberadaan Tuhan, sekalipun ada di antara mereka yang berpendapat seolah-olah mereka mengakui keberadaan Tuhan, namun mereka cenderung menganggap Tuhan sebagai hasil berpikir dari manusia, bukan sebagai Pribadi yang menjadi Causa Prima. Mereka cenderung mengesampingkan Tuhan dalam setiap segi kehidupan mereka.
Namun sebagai orang yang percaya kita meyakini bahwa Tuhan adalah Allah yang nyata keberadaannya. Kita dapat mengetahui keberadaanya melalui alam semesta yang Dia ciptakan dan melalui Alkitab sebagai wahyu ilahi, terlebih melalui Yesus Kristus yang adalah penjelmaan Allah sendiri bagi manusia (Yohanes 1:1, 14).

Saran
Dalam menghadapi tantangan dari dunia postmodernisme, kita perlu mendasari kehidupan kita dengan kebenaran Firman Tuhan. Tanpa Firman Tuhan kita akan terombang-ambingkan oleh berbagai hal yang salah dan menyesatkan, namun dengan Frman Tuhan kita akan menjadi pribadi-pribadi yang kokoh dalam iman (Efesus 4:14-15;Kolose 2:8).
Setelah kita memiliki iman yang kokoh, marilah kita juga mendukung rekan-rekan seiman kita yang ada dalam komunitas kita, sehingga merekapun tidak akan terpengaruh oleh falsafah yang salah.
Secara khusus bagi Gereja sebagai lembaga pemelihara kerohanian jemaat perlu adanya kesadaran dan kepekaan terhadap faham-faham yang sedang berkembang yang memiliki kecenderungan memudarkan kebenaran. Selanjutnya menindaklanjutinya dengan pembekalan terhadap jemaat dengan dasar-dasar kebenaran Firman Tuhan.

Kepustakaan

Alkitab
Alkitab, Jakarta: LAI, 2000

Kamus
Alwi dkk., Hasan. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka,
2001

Buku-buku
Groothuis, Douglas. Pudarnya Kebenaran. Jakarta: Momentum, 2003
Grenz, Stanley J. A Primer on Postmodernism. Grand Rapids, Michigan:William B.
Eerdmans Publishing Company, 1996
Grivin, David Ray. Tuhan dan Agama dalam Dunia Postmodern. Yogyakarta: Kanisius,
2005.
Van Peursen, C.A.. Orientasi di Alam Filsafat. Jakarta: Gramedia,1980
Enns, Paul. The Moody Handbook of Theology: Buku Pegangan Teologi. Malang:
Literatur SAAT

Artikel-artikel
http://aryaverdiramadhani.blogspot.com/2007/06/vj-7vi2007-postmodernisme-hard-to-html. Diakses tanggal 16 November 2009.
http://suaradipadanggurun.blogspot.com/2008/04/agama-dalam-pemikiran-barat-modern-dan.html. Diakses tanggal 16 November 2009.
http://groups.yahoo.com/group/METAMORPHE/message/3174. Diakses tanggal 16 November 2009.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s