Posted in Opini

Cerdas Literasi di Era Digital

Saat dimana kita hidup sekarang ini dapat dikatakan sebagai era digital. Dalam era digital semacam ini dunia berada dalam genggaman kita. Sekalipun kita hanya berada pada satu tempat dan satu waktu, namun kita dapat memantau keadaan di seluruh dunia, bahkan kita dihubungkan melalui media sosial dengan semua orang. Kita juga tidak dapat membendung arus informasi yang mengalir begitu deras, tidak hanya melalui media massa, namun juga melalui media sosial.

Media sosial saat ini tidak hanya dipandang sebagai ajang bersosialisasi di dunia maya semata, namun sudah berkembang menjadi ajang menuangkan ide-ide dalam pribadi seseorang yang berkaitan dengan banyak aspek serta membagikannya kepada orang lain.

Bila kita mencermati fenomena yang terjadi di media sosial, kita akan dibuat tercengang. Bagaimana tidak, media sosial sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan generasi digital saat ini. Kedahsyatan kekuatan pengaruh media sosial digunakan untuk mempengaruhi opini-opini publik yang menggunakan media sosial tersebut. Banyak berita-berita beredar di media sosial. Namun yang menjadi masalah adalah ketika media sosial disalahgunakan sebagai ajang propaganda negatif untuk suatu kepentingan tertentu.

Kita melihat banyaknya berita “hoax” beredar di media sosial yang sengaja disebarkan oleh orang-orang tertentu guna kepentingan-kepentingan tertentu. Pengguna media sosial tdak menyadari adanya upaya pembodohan publik melalui hal ini. Celakanya tidak sedikit pengguna media sosial yang terjebak dan pada akhirnya mulai membuat berita-berita “hoax” tersebut menjadi viral. Bagi sebagian orang lagi tidak serta merta menerima berita-berita yang tersebar dalam media sosial secara mentah-mentah. Mereka mulai mencari data dan fakta yang mendukung pemberitaan tersebut. Di sinilah perbedaan antara orang yang memiliki kecerdasan literasi dan yang tidak.

Pada era digital yang kita hadapi seperti sekarang ini, menjadi cerdas ataupun menjadi bodoh adalah sebuah pilihan. Jadilah generasi yang cerdas literasi!

 

Posted in Opini

Manusia oh Manusia..

Manusia pada hakekatnya diciptakan dengan derajat yang lebih mulia dari binatang. Manusia diberikan Tuhan kelebihan-kelebihan dibandingkan binatang, salah satunya ialah akal budi.

Dengan akal budi, manusia dapat memilah, serta menentukan apa yang baik untuk dilakukan. Berbeda dengan binatang, apa yang dilakukan hanya sebatas insting belaka. Misalnya bila binatang lapar, haus, maka mereka akan mencari makan dan minum, bila binatang membutuhkan penyaluran hasrat biologis, maka ia mencari lawan jenisnya, namun setelah itu binatang tidak lagi peduli dengan tanggung jawab setelah itu. Akankah manusia bersikap demikian juga?

Manusia sudah seharusnya bisa berpikir jauh ke depan apa yang menjadi konsekuensi, tapi ironisnya banyak manusia yang melakukan sebuah tindakan tanpa berpikir panjang lagi, apa yang akan diakibatkan dari perbuatannya. Masih banyak kasus-kasus di kalangan anak muda, dimana mereka terjebak dalam pergaulan bebas, yang salah satunya adalah perilaku seks bebas. Banyak anak muda yang tergiur kenikmatan sesaat, sehingga melanggar norma-norma susila dan agama, namun tidak berpikir lagi apa konsekuensi dari perbuatannya. Lalu apa bedanya manusia yang demikian dengan binatang?

Manusia sudah seharusnya bisa diatur dalam sebuah tatanan sosial maupun lembaga dimana manusia itu berada. Namun pada kenyataannya masih lebih banyak binatang yang lebih mudah di atur ketimbang manusia. Lihatlah, hampir semua anjing-anjing yang dipelihara manusia, mereka menjadi sangat taat pada majikannya, bahkan sekalipun mereka kena pukul pun, mereka masih tetap setia pada majikannya. Masakan manusia kalah dengan binatang model demikian?

Sudah sewajarnya pula manusia belajar dari kesalahan-kesalahannya, namun kenyataannya masih banyak manusia yang tidak pernah belajar dari kesalahannya. Apa bedanya dengan keledai? Ada ungkapan, “Hanya keledai yang jatuh pada lubang yang sama dua kali”. Masakan manusia sebodoh keledai?

Tulisan ini hanyalah sebuah ungkapan kegelisahan hati saya, melihat perilaku-perilaku manusia yang semakin hari kok rasanya semakin jauh dari jati dirinya sebagia manusia yang sesungguhnya.

Pada kelompok manusia yang mana kita? Hanya pribadi kita yang bisa menjawabnya.

Posted in Renungan

Penghiburan Tuhan Kekuatanku

Ketika aku berpikir: “Kakiku goyang,” maka kasih setia-Mu, ya TUHAN, menyokong aku. Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku. ( Mazmur 94:18-19)

Dalam hidup ini kita sering diperhadapkan kepada sebuah situasi yang membuat kita merasa tertekan. Pikiran dan hati kita senantiasa bergejolak untuk mencari jalan keluar dari situasi tersebut. Seringkali pula jalan buntulah yang kita jumpai.

Namun dalam keadaan yang semacam itulah TUHAN menginginkan kita menyadari akan kasih setia-Nya yang senantiasa hadir untuk menopang kehidupan kita. Dia hadir untuk memberikan penghiburan kepada kita, sehingga kita tidak kehilangan pengharapan. Penghiburan TUHAN lah yang memberikan kekuatan kepada kita untuk mampu menghadapi situasi sulit kita.

Jangan putus asa, ingatlah akan kasih setia TUHAN, niscaya penghiburan-Nya memberikan kita kekuatan baru. (IAS)

Posted in Renungan

Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh

Ayat Bacaan:

Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir. (1 Korintus 1:10)

Sebuah slogan yang sangat terkenal dalam kehidupan kita sebagai bangsa Indonesia ialah “Bersatu Kita teguh, Bercerai Kita Runtuh”. Slogan ini timbul dilatarbelakangi oleh kemajemukan dalam hidup berbangsa dan bernegara. Memanglah benar bahwa kekuatan itu timbul dari persatuan. Bila kita memperhatikan sebuah sapu lidi, akan sangat sulit batang-batang lidi yang terikat satu dengan yang lain untuk dipatahkan. Berbeda halnya dengan sebatang lidi yang akan sangat mudah dipatahkan.

Menghadapi perpecahan dalam kehidupan jemaat di Korintus, rasul Paulus memberikan sebuah nasihat supaya mereka tetap seia sekata dan tetap bersatu, karena pada dasarnya mereka adalah satu bagian yang utuh di dalam ikatan kasih Kristus.

Dalam berkomunitas, baik di rumah sebagai sebuah keluarga, di pekerjaan sebagai sebuah tim kerja, dalam berjemaat di gereja, maupun dalam sebuah tim pelayanan, dibutuhkan sebuah persatuan dan kesehatian. Persatuan yang kita bangun akan membawa berkat yang luar biasa (lihat Mazmur 133:1-3). Itu sebabnya jangan remehkan kekuatan dari sebuah persatuan. (IAS)

Posted in Renungan

Tuhan Pasti Sanggup

Ayat Bacaan:

Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; (Mzm. 3:5)

Sebagian dari kita tentu mengenal lagu yang berjudul “Tuhan Pasti Sanggup” yang sempat dipopulerkan oleh Mike Mohede. Berikut ini cuplikan dari lagu tersebut:

Kuatlanlah hatimu

Lewati setiap persoalan

Tuhan Yesus s’lalu menopangmu

Jangan berhenti harap pada-Nya

Tuhan pasti sanggup

Tangan-Nya tak’kan terlambat ‘tuk mengangkatmu

Tuhan masih sanggup

Percayalah, Dia tak tinggalkanmu

            Lagu tersebut mengingatkan kepada kita bahwa di tengah-tengah persoalan yang kita hadapi, kita masih memiliki harapan di dalam Tuhan, asal kita tidak berhenti berharap kepada Tuhan. Namun dalam kenyataannya, masih banyak anak-anak Tuhan yang tidak berharap kepada Tuhan. Mereka lebih memilih mengatasi masalah mereka dengan cara mereka sendiri. Akibatnya mereka gagal menikmati pertolongan Tuhan dalam hidup mereka.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk menyerahkan hidup kita kepada Tuhan serta untuk mempercayai Dia, supaya kita mengalami pertolongan Tuhan yang ajaib.

Menjalani kehidupan di dunia ini tidaklah mudah. Ada banyak masalah serta persoalan kehidupan yang harus kita alami. Hal ini menuntut kita semua mencari jalan keluar bagi setiap persoalan yang ada. Pilihan yang kita ambil itulah yang akan menentukan hasil apa yang kita dapat.        Bagi kita orang yang percaya kepada Tuhan, tentunya kita memiliki “cara” yang jitu menghadapi semua masalah kita, yaitu menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan, dan mempercayai-Nya dalam segenap aspek kehidupan kita. (IAS)

Posted in Renungan

Kemesraan dalam Rumah Tangga

Ayat Bacaan:
Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya. (Efesus 5:33)

Salah satu penyebab runtuhnya sebuah rumah tangga adalah hilangnya kemesraan antara suami dan istri. Dengan dinginnya kasih antara suami dan istri maka tidak ada lagi keharmonisan di antara mereka, sehingga banyak pasangan yang menjadikan hal ini sebagai alasan untuk bercerai. Hal ini tidak hanya berlaku bagi orang yang di luar Tuhan saja, namun banyak anak-anak Tuhan mengalami hal ini. Saya menjumpai beberapa kasus yang demikian.

Bila kita berbicara mengenai kemesraan, ketika sudah ada dalam rumah tangga hal tersebut berangsur-angsur pudar dan tidak sama lagi seperti pada masa-masa pacaran. Misalnya, waktu masa pacaran, sepasang kekasih sedang jalan-jalan bersama, sang pacar tersandung dan hampir jatuh, maka kekasihnya berkata, “hati-hati sayang…!”. Namun setelah keduanya menikah, lalu mengalami kejadian yang serupa, sang suami berkata, ”kalau jalan itu pakai mata! Jalan kok pecicilan! (pecicilan: kata apa ya yang tepat untuk menjelaskan dalam bahasa Indonesia, kalau menurut saya pecicilan dapat berarti gegabah, ceroboh). Masih banyak lagi contoh yang lain, salah satunya ketika masih pacaran, biasanya sepasang kekasih memanggil satu dengan yang lain dengan sebutan: sayang, cinta, honey, babe dan sebutan sayang yang lainnya. Namun setelah menikah banyak yang sudah tidak lagi menyapa pasangannya secara demikian. Waktu masih pacaran, sepasang kekasih masih sering mengucapkan kata i love you, aku sayang kamu, aku cinta kamu kepada pasangannya. Setelah menikah mereka tidak lagi melakukannya dengan berbagai alasan. Dan masih banyak lagi. Hal-hal ini membuat hubungan dalam sebuah pernikahan menjadi hambar.

Firman Tuhan dengan sangat gamblang memberikan sebuah aturan main bagaimana seharusnya masing-masing anggota keluarga berperan. Dalam kesempatan ini saya menyoroti bagaimana seharusnya suami-istri bersikap. Ayat bacaan di atas sangat jelas menunjukkan bahwa kasih yang tulus harus menjadi dasar dari sebuah hubungan suami-istri dalam keluarga. Dengan menjadikan kasih yang tulus sebagai dasar dalam keluarga Kristen, maka keharmonisan dalam rumah tangga akan tetap terwujud. Keharmonisan itu pulalah yang akan memberkati anak-anak yang Tuhan karuniakan dalam sebuah rumah tangga. (IAS)

Posted in Bahan Khotbah, Remaja

Mempertahankan Kebenaran Hidup

Bacaan: 1 Samuel 2:11-26

Dalam perikop ini dikisahkan mengenai kontrasnya kehidupan Samuel yang masih muda dan anak-anak imam Eli (Hofni dan Pinehas lihat ay. 34).

Mari kita bandingkan kehidupan mereka:

Kehidupan anak-anak imam Eli:

  • Anak-anak imam Eli disebut sebagai orang dursila yang tidak mengindahkan Tuhan (ay. 12)
  • Suka melanggar aturan yang telah ditetapkan bagi imam (ay. 13-17)
  • Melakukan perzinahan dengan meniduri perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan (ay. 22).
  • Tidak menjadi teladan yang baik, sebaliknya membuat umat Israel juga melakukan dosa di hadapan Tuhan (ay. 24)
  • Tidak mengindahkan nasihat orang tuanya (ay. 25)

Kehidupan Samuel Muda:

  • Dari kecil sudah menjadi pelayan Tuhan (ay. 18)
  • Memiliki kehidupan yang terpuji, sehingga disukai oleh sesama, terlebih Tuhan (ay. 26)

Setiap perbuatan manusia tentunya ada konsekuensi. Hofni dan Pinehas pada akhirnya dihukum Tuhan (ay. 25 c bandingkan dengan ay. 34 dan ps. 4:11), sedangkan Samuel muda hidup diperkenan oleh Allah (ay. 26) bahkan dipakai Allah sebagai seorang nabi (ps. 3:19-20)

Apa yang dapat kita petik dari kisah di atas?

Kehidupan seorang muda selalu diperhadapkan dengan berbagai tantangan atau godaan. Namun demikian keputusan tetap ada di tangan kita, apakah kita akan memilih melawan godaan-godaan tersebut atau justru kita menjerumuskan diri dalam perbuatan-perbuatan yang tidak berkenan kepada Tuhan.

Dalam kisah di atas, Hofni dan Pinehas, sekalipun anak seorang imam, bahkan mereka sendiri memiliki jabatan imam ( 1 Sam 1:3), namun hidup mereka tidak mencerminkan sebuah kehidupan yang baik. Sebaliknya hidup mereka justru menjadi teladan yang buruk bagi umat Allah. Kontras dengan Samuel yang hidup setia di hadapan Tuhan. Padahal mereka sama-sama hidup melayani dalam Kemah Pertemuan. Dari kisah di atas kita bisa melihat bahwa Hofni dan Pinehas telah memilih jalannya yang salah, sedangkan Samuel justru memilih untuk berbeda dengan mereka.

Bagaimana dengan kehidupan kita? Sebagai seorang muda, dalam era super modern seperti saat ini kita diperhadapkan dengan berbagai godaan dan tantangan. Apakah kita mampu hidup mempertahankan kebenaran yang ada di dalam kehidupan kita, atau sebaliknya justru kita terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak benar? Semua itu merupakan pilihan kita. Namun satu kunci yang bisa kita cermati dari kisah tersebut di atas, Samuel mampu menjaga hidupnya tetap dalam kebenaran Allah, karena ia menyadari betul seluruh tujuan hidupnya. Samuel adalah seorang anak yang telah diserahkan bagi Tuhan untuk melayaniNya, (1 Sam 1:28).

Kita akan mampu bertahan di tengah-tengah kebobrokan zaman bila kita menyadari panggilan kita sebagai orang percaya. Kita dipanggil untuk menyatakan Tuhan dalam setiap kehidupan kita lewat setiap sikap kita. Biarlah melalui hidup kita, kita menjadi berkat kesaksian bagi orang lain. Inilah yang dikehendaki Tuhan bagi kita. Mari kita renungkan bersama kehidupan kita, apakah selama ini hidup kita sudah menjadi berkat dan kesaksian yang baik atau belum. Bila hidup kita belum menjadi kesaksian yang baik, segeralah perbaiki diri dengan bertobat.

Biarlah kita menyediakan hidup kita seperti Samuel untuk dipakai sebagai alat Tuhan dalam dunia yang gelap ini. Tuhan memberkati kita semua. Amin

Posted in Bahan Khotbah

Tegar di Masa Sukar

Banyak orang yang tidak percaya mengalami ketakutan dan tekanan yang hebat saat masa sukar datang, sehingga pada akhirnya mereka mencoba mencari jalan yang menurut mereka dapat membuat mereka mengatasi masa sukar tersebut. Maka tak mengherankan apabila kita mendengar berita tentang orang yang bunuh diri hanya karena tidak sanggup menghadapi kesukaran hidup.

Sebagai orang percaya kita harus menyadari bahwa kita memiliki Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita, di masa sukar sekalipun. Dalam Matius 10:31 Yesus berkata: Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit. Apa yang Yesus katakan ini merupakan suatu jaminan bagi kita sebagai orang percaya dalam masa-masa sukar. Jikalau Allah sanggup memelihara burung-burung  pipit, apalagi kita yang lebih berharga di hadapanNya. Allahpun sanggup memelihara kita dalam segala situasi, termasuk dalam masa-masa sukar. Itu sebabnya tidak ada lagi alasan untuk kita takut. Kita tidak boleh takut pada apapun, hanya kepada Tuhanlah kita harus takut. Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. (Matius 10:28).  Inilah yang menjadi sebuah alasan kita untuk tetap tegar di masa sukar.

Kita melihat beberapa contoh tentang masa-masa sukar yang dialami beberapa tokoh di Alkitab. Contoh pertama dapat kita lihat dalam Yohanes 11:17. Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. Dalam ayat ini diceritakan tentang matinya Lazarus. Lazarus mempunyai dua saudara perempuan, Maria dan Marta. Saat Yesus datang ke rumah mereka, Lazarus sudah empat hari dikuburkan. Waktu Marta mengetahui tentang kedatangan Yesus, dia datang kepada Yesus. Yesuspun menyuruh memanggil Maria, saudaranya. Dan sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: “Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau.” (Yohanes 11:28). Ketika Maria datang kepada Yesus, dia mencurahkan segala isi hatinya di hadapanNya. Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” (Yohanes 11:32). Apa yang ada dalam pikirannya ialah apabila Yesus tidak terlambat datang, maka Lazarus tidak akan mati. Melihat situasi ini Yesus memerintahkan supaya batu penutup kubur Lazarus dibuka. Kata Yesus: “Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.” (Yohanes 11:39). Ketika Yesus memberi perintah ini, Marta merasa hal itu adalah sesuatu yang sia-sia, karena Lazarus sudah empat hari meninggal. Namun yang terjadi kemudian adalah hal yang luar biasa. Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, marilah ke luar!” Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.” (Yohanes 11:43-44). Yesus memerintahkan Lazarus untuk keluar dari kuburnya, dan Lazaruspun bangkit dan keluar dari kuburnya. Di sini kita melihat bahwa Yesus adalah jalan keluar pada masa-masa yang sukar.

Contoh lain kita dapat lihat dalam kehidupan rasul Paulus. Dia memberi pernyataan demikian: Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? (Roma 8:35). Sekalipun masa-masa sukar pernah dia alami, namun dia tetap tegar menghadapi semuanya. Karena dia tahu bahwa Kristuslah yang menjadi jaminannya.

Dari dua contoh tersebut di atas, hendaknya menjadi sebuah pola dan teladan bagi kehidupan kita. Supaya kita tidak merasa takut lagi, karena Yesus sanggup menjadi penolong dan jalan keluar dalam setiap persoalan yang kita hadapi. Apa yang harus kita lakukan saat dalam masa-masa sukar?

  1. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. (Roma 12:11). Artinya adalah pertama, kita tidak boleh kendor dalam pengiringan kita kepada Tuhan, kita harus menjadi semakin giat di dalam Dia. Kedua, kita harus terus mengijinkan Roh Allah berkobar-kobar dalam hidup kita, sehingga kita dapat kuat di dalam Tuhan. Ketiga, kita harus tetap melayani Tuhan  apapun situasi yang kita hadapi.
  2. Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. (Yesaya 40:30-31). Tanpa Tuhan kita akan menjadi lemah dan jatuh. Namun ayat ini memberikan kepada kita sebuah jaminan, bahwa orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan akan diberi kekuatan baru. Menanti-nantikan Tuhan adalah sebuah sikap kita untuk menyatu dengan Tuhan. Kita dapat menyatu dengan Tuhan dalam persekutuan kita dengan Dia. Dengan demikian Tuhan akan memampukan kita dalam menghadapi masa-masa sukar. Kita akan menjadi pribadi-pribadi yang tegar di tengah masa sukar.

Kesimpulannya ialah dalam hidup ini kita akan menghadapi masa sukar. Namun masa sukar bukanlah sesuatu yang harus ditakuti dan dihindari. Kita punya Allah yang sanggup menjadi jalan keluar dalam masa sukar. Kita punya Allah yang sanggup memberi kekuatan kepada kita semua, sehingga kita sanggup menghadapi masa-masa sukar dengan tegar. Yang harus kita kerjakan adalah, jangan kendor dalam pengiringan dan pelayanan kita kepada Tuhan, dan tetaplah menantikan Tuhan dalam persekutuan kita dengan Dia. Maka Tuhan akan menyatakan pertolongannya kepada kita.

Posted in Bahan Khotbah

Tuhanlah Tempat Perlindungan Teraman

Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita. S e l a. (Mazmur 62:9)

Rasa aman adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Dengan rasa aman tersebut manusia memiliki ketenangan dalam mengerjakan segala sesuatu. Misalnya, negara kita beberapa tahun terakhir mengalami goncangan keamanan berkaitan dengan teror bom. Diawali dengan bom bali I dan teror-teror bom selanjutnya membuat banyak orang kehilangan rasa aman. Para wisatawan tidak berani datang ke Indonesia, para investor/penanam modal pun tidak berani menginvestasikan uangnya di Indonesia. Orang-orang Indonesia yang punya uang lari ke luar negeri untuk mencari tempat yang teraman. Ini hanyalah sebagian contoh yang dapat kita lihat.

Pertanyaannya ialah, adakah tempat teraman di dunia ini, sehingga kita tidak akan tertimpa suatu kemalangan? Ada orang yang tidak mau memilih naik pesawat terbang ketika bepergian karena takut jatuh. Mereka memilih naik kapal laut, tapi toh kapal masih bisa tenggelam. Ada orang yang memilih berjalan kaki karena takut, kalau naik motor akan terjadi kecelakaan, tapi toh masih bisa diserempet kendaraan. Ada yang memilih tinggal di rumah, tapi toh ada saja musibah bisa terjadi, mulai dari banjir yang menenggelamkan rumah, gempa bumi yang merobohkan rumah, tanah longsor yang dapat meratakan rumah dengan tanah, atau meledaknya kompor gas yang dapat merenggut nyawa seseorang dan menghancurkan rumah. Ternyata tidak ada tempat yang aman di dunia ini.

Sebagai anak Tuhan, apakah yang harus kita lakukan menghadapi situasi semacam ini? Apakah lantas kita berputus asa? Firman Tuhan memberikan kepada kita sebuah pengharapan, bahwa ada satu tempat teraman bagi kita untuk berlindung, yaitu dalam TUHAN.

Apa yang dinyatakan oleh pemazmur adalah sebuah kesaksian hidup yang pernah di alaminya. Lewat pengalaman-pengalaman inilah pemazmur menjelaskan bagaimana Allah menjadi tempat perlindungannya. Allah adalah harapannya Allah digambarkan sebagai:

1.      Gunung Batu/Bukit Batu (Mzm. 18: 32 bd ay.2)

Tempat di mana seseorang mendapatkan perlindungan pada masa bahaya, tempat yang aman dari kejaran musuh. Mengapa tempat seperti ini dijadikan tempat berlindung, tempatnya susah dijangkau, curam dan penuh gua-gua gelap yang dapat memberikan jaminan keamanan. Tuhan memberikan jaminan keamanan bagi kita, Tuhan adalah tempat berlindung.

2.      Kubu Pertahanan (Mzm. 18:2)

Kubu pertahanan adalah suatu tempat untuk bertahan dari serangan musuh. Musuh tidak dapat mencapai tempat ini,biasanya dibangun di tempat yang tinggi (gunung batu).

3.      Perisai (Mzm.18:2 bd Mzm 3:3)

Perisai adalah sebuah alat untuk menahan serangan musuh yang di bawa seorang prajurit. Tuhan adalah pelindung kita.

4.      Tanduk Keselamatan (Mzm.18:2)

Ini adalah sebuah kekuatan pertahanan seekor binatang, contoh, kerbau, rusa dll.

5.      Kota Benteng (Mzm.18:2)

Menara perlindungan, tempat orang mengungsi (Ams.18:10)

Itulah gambaran tentang Allah, yang dinyatakan oleh pemazmur. Intinya adalah bahwa hanya pada Allah saja ada jaminan dalam kehidupan ini.

Apa yang harus kita lakukan, dan apa hasilnya?  Mzm. 62:9 menganjurkan supaya kita percaya kepada Allah setiap waktu.

Bagaimana caranya?

Mzm 91:1-16. Menjelaskan kepada kita tentang hal ini.

1. Berlindung pada Tuhan (ay. 1-2) hasil: ay. 3-13

Orang yang berlindung pada Tuhan akan menikmati perlindungan dan pemeliharaan Tuhan yang luar biasa.

2. Melekat pada Tuhan (ay. 14) hasil: ay.15-16

Orang yang melekat pada Tuhan mendapatkan umur panjang dan keselamatan dari Tuhan.

Posted in Renungan

Bersyukurlah Untuk Hal-hal yang Positif

Ayat Bacaan:

Filipi 1:3  Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu.

             Apa yang anda ingat tentang orang-orang di sekitar anda? Kebaikan mereka atau keburukan mereka? Pengalaman baik bersama mereka atau pengalaman buruk bersama mereka?

Ketika Paulus menulis ayat ini dia sedang mengalami masa-masa sulit, dia sedang ada dalam penjara. Kisah Para Rasul 16 menyatakan kepada kita bahwa ketika Paulus pergi ke Filipi, dia ditangkap secara illegal, dicambuk, dihina, dan dijebloskan ke penjara. Namun pengalaman tersebut tidak membuatnya untuk tidak bersyukur, dia lebih memilih mengingat hal-hal yang baik dimana orang-orang percaya di Filipi senantiasa ada dalam persekutuan di dalam Tuhan (Fil. 1:3). Dia bisa saja teringat pada kenangan menyakitkan, namun dia memilih untuk berfokus kepada hal-hal yang bisa dia syukuri.

Mungkin Anda telah disakiti di masa lalu oleh orang tua ataupun pasangan Anda, dan Anda masih berpegang pada rasa sakit itu. Akibatnya Anda tidak bisa menikmati berada di dekat mereka hari ini, Anda masih berfokus pada yang buruk dan negatif. Mulailah belajar bersyukur untuk hal yang baik yang ada pada orang-orang yang ada di sekeliling kita, jika Anda ingin menikmati hubungan dengan orang lain. (IAS)